BLOG INI AKAN SEGERA DIHAPUS.
NAMUN PEMBACA TETAP DAPAT MEMBACANYA DI:
WWW.MEDIAFORIDEA.WORDPRESS.COM
Rabu, 16 April 2008
PEMBERITAHUAN
BLOG INI AKAN SEGERA DIHAPUS.
NAMUN PEMBACA TETAP DAPAT MEMBACANYA DI WWW.MEDIAFORIDEA.WORDPRESS.COM.
NAMUN PEMBACA TETAP DAPAT MEMBACANYA DI WWW.MEDIAFORIDEA.WORDPRESS.COM.
Senin, 07 April 2008
PERSPEKTIF PROFESI
Apa yang kita lihat dari seorang petugas kebersihan (cleaning service) di kantor?. Apa yang kita lihat dari sekumpulan buruh di kantor yang bekerja begitu keras, hingga seluruh tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap?. Apa yang kita lihat dari sosok pembantu di rumah kita?.
Cobalah jujur kepada diri sendiri, apakah kita pernah memandang orang-orang tersebut lebih rendah dari cara kita memandang diri kita sendiri?. Apakah kita menilai mereka lebih rendah dari diri kita sendiri?. Yah, kita menilai mereka demikian karena membandingkan posisi kita dengan posisi mereka sekarang. Tapi cara pandang seperti itu benar-benar tidak pantas.
Kenyataannya, kita memerlukan mereka, bukan?. Kita menikmati bekerja di ruang kantor yang nyaman, ber-AC, dengan kursi yang empuk (walaupun tidak semewah ini, setidaknya ruangan kita nyaman). Itu semua karena jasa cleaning service. Sayangnya, saat melihat cleaning service membersihkan ruangan, kita berpikir dalam hati bahwa mereka melakukan pekerjaan rendahan? Pantaskah sifat ini?. Begitu juga dengan pembantu di rumah kita.
Saya rasa paragraf di atas telah cukup menjelaskan maksud saya. Kita sering memandang rendah seseorang dari profesinya, padahal sesungguhnya kita membutuhkan orang-orang dengan profesi tersebut.
Kita diberi talenta yang berbeda-beda oleh "Yang Maha Kuasa". Ada yang diberi begitu banyak talenta, ada yang hanya diberi satu atau dua talenta saja. Namun yang dijadikan ukuran kesuksesan bukanlah banyaknya talenta. Tetapi apakah kita telah memaksimalkan semua talenta yang diberikan pada kita. Oleh sebab itu, makin banyak talenta yang kita punyai, makin banyak yang akan dituntut dari kita.
Jadi, belum tentu anda dan saya lebih sukses dari seorang cleaning service atau pembantu rumah tangga. Sekalipun profesi mereka demikian, namun jika mereka telah memaksimalkan seluruh potensi yang ada, mereka adalah pemenang. Andapun demikian.
Jangan lagi memandang orang dari profesinya. Namun lihatlah bagaimana dia memaknai profesinya.
Cobalah jujur kepada diri sendiri, apakah kita pernah memandang orang-orang tersebut lebih rendah dari cara kita memandang diri kita sendiri?. Apakah kita menilai mereka lebih rendah dari diri kita sendiri?. Yah, kita menilai mereka demikian karena membandingkan posisi kita dengan posisi mereka sekarang. Tapi cara pandang seperti itu benar-benar tidak pantas.
Kenyataannya, kita memerlukan mereka, bukan?. Kita menikmati bekerja di ruang kantor yang nyaman, ber-AC, dengan kursi yang empuk (walaupun tidak semewah ini, setidaknya ruangan kita nyaman). Itu semua karena jasa cleaning service. Sayangnya, saat melihat cleaning service membersihkan ruangan, kita berpikir dalam hati bahwa mereka melakukan pekerjaan rendahan? Pantaskah sifat ini?. Begitu juga dengan pembantu di rumah kita.
Saya rasa paragraf di atas telah cukup menjelaskan maksud saya. Kita sering memandang rendah seseorang dari profesinya, padahal sesungguhnya kita membutuhkan orang-orang dengan profesi tersebut.
Kita diberi talenta yang berbeda-beda oleh "Yang Maha Kuasa". Ada yang diberi begitu banyak talenta, ada yang hanya diberi satu atau dua talenta saja. Namun yang dijadikan ukuran kesuksesan bukanlah banyaknya talenta. Tetapi apakah kita telah memaksimalkan semua talenta yang diberikan pada kita. Oleh sebab itu, makin banyak talenta yang kita punyai, makin banyak yang akan dituntut dari kita.
Jadi, belum tentu anda dan saya lebih sukses dari seorang cleaning service atau pembantu rumah tangga. Sekalipun profesi mereka demikian, namun jika mereka telah memaksimalkan seluruh potensi yang ada, mereka adalah pemenang. Andapun demikian.
Jangan lagi memandang orang dari profesinya. Namun lihatlah bagaimana dia memaknai profesinya.
Kamis, 03 April 2008
THE SECRET: LAW OF ATTRACTION!


THE SECRET, sebuah karya yang fenomenal dari Rhonda Byrne. Pesan yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya bukan hal baru, yaitu Law of Attraction (Hukum Tarik Menarik), dimana apa yang kita pikirkan di dalam pikiran akan menjelma menjadi kenyataan. Apabila kita memikirkan sesuatu yang kita inginkan, maka itulah yang akan kita terima, dan sebaliknya, jika kita terus menerus memikirkan sesuatu yang tidak kita inginkan, hal tersebut yang akan kita terima. Banyak penulis dan para psikolog sudah membicarakan tentang topik tersebut. Namun karena Rhonda mengatakannya sebagai"sebuah rahasia yang telah tersimpan lama", membuat daya magnetis buku tersebut makin kuat.
Namun, muncul beberapa kontroversi yang menyertai kesuksesan The Secret. Ada pihak yang mengatakan bahwa buku tersebut mencoba menggantikan posisi Tuhan sebagai pencipta. Ada juga pihak-pihak yang mengatakan bahwa buku tersebut terlalu menyederhanakan segala sesuatu. Dan ada juga yang berkomentar bahwa buku tersebut terlalu egosentris sebab hanya menilai segala sesuatu untuk kebahagiaan diri sendiri.
Bagi yang belum membaca buku tersebut mungkin tidak mengerti mengenai maksud tulisan saya di atas. Coba anda baca dan resap seluruh pesan dalam buku The Secret. Kemudian bantu saya untuk menjawab pertanyaan di bawah ini.
1. "Apakah semua hal positif yang kita pikirkan pasti dapat kita terima?". Jika demikian, bagaimana dengan para penderita AIDS? bisakah mereka disembuhkan dengan berpikir positif? Jika bisa, berarti kita telah menemukan obat untuk penyakit AIDS!
2. "Apakah dengan tidak memikirkan hal-hal yang buruk berarti kita dapat terhindar dari hal-hal tersebut?". Jika demikian, apakah menurut anda para korban Tsunami Aceh sebelumnya telah memikirkan Tsunami dulu sehingga Tsunami tersebut benar-benar datang meluluh-lantakkan Aceh?
Well, semua kembali ke pembaca. Tapi pasti saya ditanya tentang pendirian saya mengenai The Secret. Jawaban saya, berpikir positif memang perlu, tapi bukan segalanya. Sebab di atas kedahsyatan sebuah otak, masih ada Tuhan yang akan menentukan jalan hidup setiap manusia.
Senin, 31 Maret 2008
MENANGGAPI PERUBAHAN

Topik tentang "perubahan" (change) memang lagi hangat. Apalagi sejak Rhenald Khasali, salah satu pakar manajemen, menelurkan buku-buku yang bertemakan tentang perubahan. Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Re-code: Change Your DNA” dikatakan bahwa kadar DNA manusia dalam menanggapi suatu perubahan itu berbeda-beda. Akhirnya kembali lagi ke teorinya Darwin, dimana mereka yang dapat bertahan menghadapi persaingan kerja adalah mereka yang dapat cepat menyesuaikan diri dengan perubahan.
Sadar atau tidak sadar, perubahan sebenarnya terjadi hampir setiap hari. Saya sendiri, tiap hari harus segera menyesuaikan diri dengan banyaknya perubahan. Mulai dari perubahan-perubahan kecil seperti perubahan rencana kegiatan yang tidak sesuai dengan schedule, perubahan gaya komunikasi ketika berada di tempat yang berbeda, hingga perubahan pola kerja yang mutlak dibutuhkan demi menyelesaikan suatu tugas tertentu. Ini saya alami saat mengerjakan Tugas Akhir untuk program sertifikasi yang saya ambil. Saat itu, saya harus mengatur schedule dengan ketat, sebab saya juga memiliki pekerjaan lain yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu tertentu. Bukankah ini berarti hidup saya berubah?. Saya tidak lagi memiliki waktu santai sebanyak dulu. Jika saya tidak mengetatkan schedule saya, dan memilih menjalani hidup dengan cara yang lama, apa jadinya?.
Yah, siap sedialah dengan segala perubahan. Tidak ada tempat bagi orang yang menghendaki keadaan selalu normal, konstan, dan terkendali. Mungkin saat ini hidup anda demikian terkendali, namun siapa yang tahu hari esok?.
Saya jadi ingat sebuah contoh mengenai perubahan yang saya perhatikan beberapa hari terakhir. Coba amati keadaan SPBU saat ini. Bandingkan dengan kondisinya dulu. Selain bertambahnya jumlah pemain, area yang lebih luas, dan pegawai yang lebih ramah, tiap SPBU kini selalu ada minimarket nya. Bahkan dosen saya melihat ada Starbucks, Dunkin Donuts, dan Hoka-Hoka Bento di suatu SPBU. Inilah contoh kasus perubahan yang paling kasat mata. SPBU yang dulunya tempat jual minyak, kini juga tempat jualan makanan…. Walah... Walah.
Kira-kira, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, bisnis apa lagi yang bisa dijual di SPBU ya?
Rabu, 26 Maret 2008
PENCURI WAKTU

Semua orang selalu kekurangan waktu. Paradoks tersebut sudah banyak kali kita jumpai. Memang kebanyakan orang mengeluhkan dirinya yang tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan seluruh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga muncullah sebuah argumen tua namun masih akrab terdengar di telinga kita, "Apabila aku mempunyai sedikit saja waktu tambahan, aku pasti bisa menyelesaikan seluruh pekerjaanku".
Kenyataannya, waktu tidak dapat ditambah (ataupun dikurangi). Karena itu, sudah menjadi tugas seseorang untuk mampu mengelola 24 jam yang telah diberikan "Sang Pencipta Waktu" agar seluruh tugas dan tanggung jawabnya dapat terselesaikan sebaik-baiknya.
Yang harus dilakukan pertama kali adalah menentukan prioritas. Saya punya sedikit cerita mengenai bagaimana menentukan sebuah prioritas.
Seperti kebanyakan orang, saya juga pernah merasakan selalu kekurangan waktu. Banyak pekerjaan saya yang terbengkalai. Apalagi saat saya sedang menjalani kerja magang di suatu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan. Sebab kerja magang tersebut berbarengan dengan pekerjaan lainnya, yaitu pekerjaan parttime saya sebagai Reporter dan skripsi saya yang belum kelar. Alhasil, bisa dibayangkan bagaimana hari-hari yang saya lewati. Tugas demi tugas terus mengalir membanjiri meja kerja saya.
Namun setelah merenungkannya, saya menyadari satu kesalahan manajemen waktu yang telah saya lakukan secara tidak sadar. Sebagian besar waktu saya banyak dihabiskan dengan melakukan kegiatan rutinitas seperti mencatat. Sehingga kegiatan-kegiatan inti saya, yaitu kegiatan-kegiatan yang menuntut kemampuan mengeksplor daya pikir dan imajinasi, justru banyak tersisihkan.
Saya menata ulang kegiatan saya sehari-hari. Kegiatan catat-mencatat, dan yang sifatnya hanya rutinitas, saya lakukan di rumah, atau saya lakukan di kantor jika ada waktu senggang. Namun kegiatan menulis berita, menulis laporan, membuat marketing plan untuk kerja magang saya, dan yang sifatnya lebih mengeksplor kemampuan berpikir, akan saya dahulukan.
Jadi, tentukanlah prioritas anda, dan nikmatilah 24 jam anda.
Kenyataannya, waktu tidak dapat ditambah (ataupun dikurangi). Karena itu, sudah menjadi tugas seseorang untuk mampu mengelola 24 jam yang telah diberikan "Sang Pencipta Waktu" agar seluruh tugas dan tanggung jawabnya dapat terselesaikan sebaik-baiknya.
Yang harus dilakukan pertama kali adalah menentukan prioritas. Saya punya sedikit cerita mengenai bagaimana menentukan sebuah prioritas.
Seperti kebanyakan orang, saya juga pernah merasakan selalu kekurangan waktu. Banyak pekerjaan saya yang terbengkalai. Apalagi saat saya sedang menjalani kerja magang di suatu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan. Sebab kerja magang tersebut berbarengan dengan pekerjaan lainnya, yaitu pekerjaan parttime saya sebagai Reporter dan skripsi saya yang belum kelar. Alhasil, bisa dibayangkan bagaimana hari-hari yang saya lewati. Tugas demi tugas terus mengalir membanjiri meja kerja saya.
Namun setelah merenungkannya, saya menyadari satu kesalahan manajemen waktu yang telah saya lakukan secara tidak sadar. Sebagian besar waktu saya banyak dihabiskan dengan melakukan kegiatan rutinitas seperti mencatat. Sehingga kegiatan-kegiatan inti saya, yaitu kegiatan-kegiatan yang menuntut kemampuan mengeksplor daya pikir dan imajinasi, justru banyak tersisihkan.
Saya menata ulang kegiatan saya sehari-hari. Kegiatan catat-mencatat, dan yang sifatnya hanya rutinitas, saya lakukan di rumah, atau saya lakukan di kantor jika ada waktu senggang. Namun kegiatan menulis berita, menulis laporan, membuat marketing plan untuk kerja magang saya, dan yang sifatnya lebih mengeksplor kemampuan berpikir, akan saya dahulukan.
Jadi, tentukanlah prioritas anda, dan nikmatilah 24 jam anda.
Senin, 24 Maret 2008
RASA TAKUT

Sebuah artikel dari Kafi Kurnia, kolumnis bisnis terkemuka, mengulas tentang peran sebuah "rasa takut" dalam pemasaran suatu produk. Artikel tersebut benar-benar membuka wawasan saya, dan kebenaran dari pernyataan penulis nyentrik itu acap kali terbukti dalam kehidupan saya pribadi.
Ya... sebuah "rasa takut" dapat digunakan sebagai senjata ampuh untuk memancing konsumen membeli produk. Secara tidak sadar, kita sendiri sering membeli suatu produk karena didasari rasa takut tersebut. Misalnya, banyak orang yang memilih untuk berolah raga di gym karena TAKUT MENGALAMI MASALAH DALAM KARIR / PERCINTAAN APABILA TUBUHNYA TIDAK ENAK DIPANDANG (Tidak seksi atau tidak atletis). Pengelola gym dapat dengan cerdik memanfaatkan rasa takut ini, dan dengan mudah meyakinkan konsumen bahwa jika memiliki tubuh yang enak dipandang, akan lebih mempermudah dia dalam urusan karir atau jodoh.
Lihat pula bagaimana produk Aqua dengan cerdik memanfaatkan "rasa takut". Dalam iklan-iklannya dikatakan bahwa kebersihan air yang diminum dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Konsumen yang peduli akan kesehatan dirinya pasti akan kembali mempertanyakan seberapa bersih air yang sudah diminumnya selama ini. Kemudian muncul rasa takut dan endingnya, orang ini memilih minum Aqua saja (yang dipersepsikannya sebagai minuman higienis) daripada air minum lainnya yang (mungkin) tidak higienis.
Ada juga iklan dari vegeta. Iklan produk ini diawali dengan memunculkan "rasa takut" konsumen mengenai penyakit saluran pencernaan yang diakibatkan kurangnya serat. Dengan cerdik, produk ini memakai endorser seorang dokter. Sama seperti Aqua, Vegeta pun kemudian menyatakan maksudnya dalam iklan tersebut, bahwa dengan meminum Vegeta anda akan terhindar dari penyakit saluran pencernaan tersebut.
Banyak sekali produk-produk kecantikan yang menggunakan "rasa takut" untuk memancing keinginan konsumen membeli produk tersebut. Dan kebanyakan mereka sukses dengan strategi itu.
Jumat, 21 Maret 2008
ME TOO

Beberapa hari lalu saya menyaksikan ulah segelintir orang yang cukup menggelitik. Sore itu saya sedang terjebak macet di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, dan benar-benar macet total hingga kendaraan saya tidak sanggup beranjak satu jengkal pun.
Banyak pengendara mulai terlihat gelisah karena sudah terlalu lama menunggu, tidak terkecuali saya sendiri. Mungkin ini diakibatkan kondisi sehabis pulang kerja yang cukup melelahkan dan tentunya ingin segera beristirahat di rumah.
Tiba-tiba saja seorang pengendara sepeda motor mengangkat motornya ke trotoar, kemudian menaiki dan menjalanlan motornya di trotoar tersebut. Alhasil, pengendara motor yang awalnya berada di belakang, sebaris dengan saya, kini sudah meninggalkan barisannya jauh di depan. Spontan tindakan tersebut memicu niat serupa bagi pengendara motor lainnya. Mereka beramai-ramai menaikkan sepeda motornya ke trotoar. Bahkan ada aksi gotong royongnya pula. Jika ada pengendara yang tidak dapat mengangkat motornya, pengendara lain turun tangan membantu. Peristiwa tersebut tentu saja menjadi tontonan semua orang.
Saya tidak melihat peristiwa tersebut dari segi etis atau tidak etis nya. Namun saya melihat suatu karakter unik masyarakat Indonesia, yaitu suka ikut-ikutan. Menurut saya, jika tidak ada yang memulai menaikkan motornya ke trotoar maka tidak akan ada kejadian yang diceritakan di atas. Begitu seseorang memulainya, banyak orang lainnya mengikuti. Itulah sebagian besar karakter masyarat Indonesia, jika tidak ingin dikatakan seluruhnya.
Mari kita tarik peristiwa tersebut dalam perspektif bisnis. Lihatlah betapa banyaknya produk-produk yang dikonsumsi bukan karena kebutuhan, namun semata-mata karena banyak yang memakai. Ambilah contoh Handphone. Ketika seseorang membeli seri terbaru Nokia dan puas dengan produk tersebut, dia akan menceritakan pada teman-temannya. Dampaknya, teman-temannya IKUT-IKUTAN membeli. Apakah karena kebutuhan? belum tentu juga. Efek dari perbincangan tentang Handphone tersebut dapat menimbulkan keinginan. Kemudian keinginan tersebut seolah-olah menjadi kebutuhan dan keinginan itu makin matang ketika orang itu mulai mempertimbangkan untuk membeli.
Namun bisa juga terjadi sebaliknya, dimana orang tersebut kecewa dengan kualitas produk Nokia tersebut yang tidak sesuai dengan harapannya. Joe Girard, seorang penjual mobil terbesar, mengatakan bahwa konsumen yang kecewa terhadap sebuah produk akan menceritakan pengalaman buruknya itu kepada 250 orang lainnya.
Lihat pula bagaimana pola trend gaya rambut, khususnya untuk wanita. Banyak wanita yang mengubah gaya rambutnya sesuai dengan trend yang diminati saat itu. Para artis umumnya menjadi trendsetter gaya rambut. Nah yang kayak beginian ini kan menguntungkan para penata rambut. Sebab orang mengubah rambutnya bukan karena kebutuhan, tetapi karena mereka IKUT-IKUTAN model rambutnya para artis atau yang lagi ngetrend.
Yang terakhir ini terjadi pada teman saya. Dia tertarik membeli sebuah jam tangan karena jam tangan tersebut dipakai juga oleh seorang pembalap terkenal. Dia ingin IKUT-IKUTAN punya jam tangan tersebut. Apakah dia membeli karena kebutuhan? tidak juga.
Masih banyak sederetan contoh tentang orang yang membeli karena ikut-ikutan saja, bukan karena kebutuhan. Ini peluang yang baik bagi para pebisnis. Yang terpenting adalah dengan mengetahui siapa opinion leader (pengambil keputusan) dan Influencer (pemberi pengaruh) dalam suatu kelompok, karena para opinion leader dan Influencer biasanya diikuti oleh orang-orang dalam kelompok (segmen) tersebut.
Namun memang tidak semua produk memperoleh respon seperti itu dari konsumen. Biasanya, produk-produk yang berhubungan dengan fashion-lah yang banyak dibeli/dikonsumsi karena ikut-ikutan tadi. Makanya, tidak heran apabila banyak marketer yang kemudian membangun image produknya ke arah fashion walaupun fungsi dasar produk tersebut bukanlah untuk fashion.
Kamis, 20 Maret 2008
BANGGA TERHADAP DIRI SENDIRI

Seorang teman saya bercerita mengenai hidupnya yang banyak mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir. Sebuah perubahan positif. Saya sendiri merasa senang mendengarnya dan mendapat sebuah inspirasi dari pengalaman hidupnya.
Dulu saya melihat teman saya ini sebagai seseorang yang selalu membutuhkan orang lain disampingnya, dengan kata lain dia tidak mandiri. Dia sendiri mengakui bahwa dia tidak bisa menyelesaikan masalah-masalahnya tanpa ada seseorang yang membimbingnya. Dampaknya menurut saya cukup kompleks. Dia jadi tergantung dengan keberadaan orang lain, sulit mengambil keputusan sendiri, dan tidak berani melakukan sesuatu sendirian.
Namun teman saya mengalami titik balik pada saat dirinya melakukan perjalanan ke negeri kangguru, Australia. Ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri seorang diri, maksudnya tanpa ditemani kerabat dan keluarga. Entah mengapa dia bertekad memberanikan diri.
Setelah lima hari di Aussie, dia merasa lebih berani melakukan banyak hal seorang diri. Dia berani jalan-jalan di mall seorang diri. Dia berani makan di restoran seorang diri. Dia berani mengirim surat ke DHL seorang diri, bahkan berani marah kepada petugas DHL yang bersikap tidak sopan kepadanya. Dan masih banyak keberanian yang dulu tidak pernah ada dalam dirinya. Mungkin ini semua karena dia telah ditempa selama lima hari tersebut untuk mengurus dirinya sendiri, tanpa dibantu orang lain
Dampak dari munculnya sikap kemandirian tersebut adalah rasa bangga terhadap diri sendiri! Suatu motivasi luar biasa yang muncul dari dalam diri!. Kalau sudah seperti ini, saya rasa dia tidak perlu lagi terlalu banyak bantuan orang lain dalam menjalani hidupnya. Sebab dia telah menemukan kekuatannya, yaitu rasa bangga terhadap diri sendiri!.
Selasa, 18 Maret 2008
GREAT PERSON = TEAM PLAYERS

Suatu hari saya mengikuti presentasi yang dibawakan oleh Kepala SDM perusahaan multinasional ternama di Indonesia. Topik yang dibahas cukup menarik, mengenai bagaimana memilih suatu tempat kerja setelah lulus kuliah.
Rupa-rupanya, pembicara ini menekankan pada pentingnya mengenali lingkungan kerja di perusahaan yang ingin kita masuki. Lingkungan kerja yang dimaksud meliputi bagaimana pola interaksi antar sesama karyawan, bagaimana hubungan antara atasan - bawahan, dan bagaimana hubungan kerjasama dalam menyelesaikan sebuah tugas.
Sebuah kalimat bijak meluncur dari mulut pembicara tersebut. "Bekerja di suatu perusahaan berarti menyerahkan kualitas hari-hari kita pada perusahaan tersebut". Sebab 5 - 6 hari penuh, waktu kita pasti lebih banyak dihabiskan di kantor. Sehingga, jika suasana kerja di kantor penuh dengan tekanan, hal ini berdampak pada banyak hal dalam hidup kita. Pertama, produktivitas kerja menurun. Kedua, kualitas hubungan dengan keluarga dapat terganggu, sebab masalah-masalah dalam perusahaan turut dibawa dalam keluarga. Ketiga, kesehatan yang terganggu. Sehingga bekerja di perusahaan yang tidak memiliki lingkungan kerja yang sehat dapat memperburuk kualitas hari-hari kita.
Dalam banyak hal, saya setuju dengan pembicara ini. Namun terkadang beberapa orang menggunakan alasan "lingkungan kerja yang tidak sehat" sebagai pembelaan diri ketika hasil kerjanya tidak memuaskan. So, perbedaan "lingkungan kerja yang sehat dan tidak sehat" harus dipersepsikan dengan benar.
Merujuk dari ide mengenai lingkungan kerja yang sehat, saya menyimpulkan bahwa seseorang harus bisa menjadi team players agar bisa sukses dalam karirnya. Team players artinya orang tersebut mampu membangun kerjasama yang solid dan bukan seorang yang individual dalam bekerja. Menjadi seorang team players susah-susah gampang. Sebab terkadang orang tersebut dituntut mengesampingkan kehendak pribadinya dan mendahulukan kepentingan tim. Menurut saya, salah satu modal untuk menjadi team players adalah memiliki sifat responsiveness, yaitu kepekaan dan ketanggapan seseorang dalam memberikan kontribusi yang dibutuhkan oleh tim nya.
Akhir kata, seorang pemain individu lambat laun akan tersisihkan dalam dinamika kerja yang kini semakin menuntut kesolidan kerjasama tim. Maka, jadilah seorang team players, dan mainkan peran anda dengan cantik
Rupa-rupanya, pembicara ini menekankan pada pentingnya mengenali lingkungan kerja di perusahaan yang ingin kita masuki. Lingkungan kerja yang dimaksud meliputi bagaimana pola interaksi antar sesama karyawan, bagaimana hubungan antara atasan - bawahan, dan bagaimana hubungan kerjasama dalam menyelesaikan sebuah tugas.
Sebuah kalimat bijak meluncur dari mulut pembicara tersebut. "Bekerja di suatu perusahaan berarti menyerahkan kualitas hari-hari kita pada perusahaan tersebut". Sebab 5 - 6 hari penuh, waktu kita pasti lebih banyak dihabiskan di kantor. Sehingga, jika suasana kerja di kantor penuh dengan tekanan, hal ini berdampak pada banyak hal dalam hidup kita. Pertama, produktivitas kerja menurun. Kedua, kualitas hubungan dengan keluarga dapat terganggu, sebab masalah-masalah dalam perusahaan turut dibawa dalam keluarga. Ketiga, kesehatan yang terganggu. Sehingga bekerja di perusahaan yang tidak memiliki lingkungan kerja yang sehat dapat memperburuk kualitas hari-hari kita.
Dalam banyak hal, saya setuju dengan pembicara ini. Namun terkadang beberapa orang menggunakan alasan "lingkungan kerja yang tidak sehat" sebagai pembelaan diri ketika hasil kerjanya tidak memuaskan. So, perbedaan "lingkungan kerja yang sehat dan tidak sehat" harus dipersepsikan dengan benar.
Merujuk dari ide mengenai lingkungan kerja yang sehat, saya menyimpulkan bahwa seseorang harus bisa menjadi team players agar bisa sukses dalam karirnya. Team players artinya orang tersebut mampu membangun kerjasama yang solid dan bukan seorang yang individual dalam bekerja. Menjadi seorang team players susah-susah gampang. Sebab terkadang orang tersebut dituntut mengesampingkan kehendak pribadinya dan mendahulukan kepentingan tim. Menurut saya, salah satu modal untuk menjadi team players adalah memiliki sifat responsiveness, yaitu kepekaan dan ketanggapan seseorang dalam memberikan kontribusi yang dibutuhkan oleh tim nya.
Akhir kata, seorang pemain individu lambat laun akan tersisihkan dalam dinamika kerja yang kini semakin menuntut kesolidan kerjasama tim. Maka, jadilah seorang team players, dan mainkan peran anda dengan cantik
Senin, 17 Maret 2008
THINK OUT OF THE BOX

Setelah sukses dengan novel Shinran (1934) dan Miyamoto Musashi (1935), Eiji Yoshikawa, novelis sejarah terkemuka di Jepang, kembali mengulang suksesnya dengan novel ketiga yang berjudul Shinsho Taikoki (1937). Tokoh utama dalam Shinsho Taikoki adalah Kinoshita Tokichiro, seorang pria bertubuh kecil dan berwajah mirip monyet. Dia mengabdi kepada Oda Nobunaga, pimpinan tertinggi benteng Kiyosu. Karena penampilan fisiknya, Tokichiro sering dipandang remeh oleh para samurai Oda.
Saat musim dingin tiba, seluruh samurai banyak menghabiskan waktu dengan bersantai di depan perapian. Di ruang-ruang kerja, pondok-pondok istirahat, ruang-ruang pendamping, di dalam dan di luar, dimana saja orang menyalakan api di musim dingin. Kondisi ini menyebabkan persediaan arang dan kayu bakar kian menipis.
Sang pengawas arang dan kayu bakar, Murai Nagato, mendapat perintah dari Oda Nobunaga untuk melakukan penghematan. Maka Nagato melakukan tugasnya dengan memberi perintah kepada seluruh penduduk dan para samurai untuk menghemat penggunaan arang dan kayu bakar. Dia berkeliling mengawasi. Akibatnya, banyak yang mengeluh sebab perapian mereka tidak dapat menghangatkan tubuh. Pendek kata, tidak banyak kemajuan yang dicapai oleh Nagato. Dia dipecat dari posisinya dan digantikan oleh Kinoshita Tokichiro yang saat itu masih bertugas sebagai pelayan di dapur. Titah Nobunaga tetap sama, melakukan penghematan arang dan kayu bakar.
Seperti halnya Nagato, Tokichiro juga mengawali tugasnya dengan berkeliling dan mengawasi. Dia mendapati biaya tahunan arang dan kayu bakar di benteng Kiyosu melebihi seribu gantang padi. Setiap tahun banyak sekali pohon yang ditebang dan diubah menjadi abu. Tokichiro sadar bahwa cara Nagato dengan menyuruh tiap orang menghemat penggunaan arang dan kayu bakar hanya menimbulkan kericuhan. Maka dia berpikir dan berpikir. Satu ide kreatif muncul.
Tokichiro mendatangi Nobunaga dan menyampaikan idenya. “Di musim dingin, para samurai muda, para prajurit biasa, dan para pelayan menghabiskan hari-hari mereka di dalam ruangan sambil makan, minum, dan bersenda gurau. Sebelum menyuruh mereka menghemat arang dan kayu bakar, dengan segala kerendahan hati hamba mengusulkan agar tuanku lebih dulu mengambil tindakan untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.”
Nobunaga segera memberikan perintah kepada para pengikut seniornya untuk membahas kegiatan-kegiatan wajib yang harus dilakukan selama musim dingin. Akhirnya, tiap orang kini diberi tugas wajib untuk melakukan perbaikan perlengkapan tempur, kuliah, meditasi zen, inspeksi mengelilingi provinsi, dan yang paling penting adalah latihan militer.
Dengan demikian, seisi benteng tidak mempunyai kesempatan untuk bersantai, sehingga tidak perlu menghambur-hamburkan arang dan kayu bakar. Kalaupun ada sedikit waktu kosong, orang-orang tidak memerlukan api untuk menghangatkan badan, karena mereka bergerak terus dan melatih otot-otot tanpa henti. Sehingga, bahan bakar hanya digunakan untuk memasak. Tokichiro pun tidak dibenci oleh penduduk, sebab yang mereka tahu perintah tersebut datang langsung dari Nobunaga, tidak ada hubungannya dengan penghematan arang dan kayu bakar. Inilah contoh sebuah solusi kreatif. Think out of The box.
Langganan:
Postingan (Atom)
