
Setelah sukses dengan novel Shinran (1934) dan Miyamoto Musashi (1935), Eiji Yoshikawa, novelis sejarah terkemuka di Jepang, kembali mengulang suksesnya dengan novel ketiga yang berjudul Shinsho Taikoki (1937). Tokoh utama dalam Shinsho Taikoki adalah Kinoshita Tokichiro, seorang pria bertubuh kecil dan berwajah mirip monyet. Dia mengabdi kepada Oda Nobunaga, pimpinan tertinggi benteng Kiyosu. Karena penampilan fisiknya, Tokichiro sering dipandang remeh oleh para samurai Oda.
Saat musim dingin tiba, seluruh samurai banyak menghabiskan waktu dengan bersantai di depan perapian. Di ruang-ruang kerja, pondok-pondok istirahat, ruang-ruang pendamping, di dalam dan di luar, dimana saja orang menyalakan api di musim dingin. Kondisi ini menyebabkan persediaan arang dan kayu bakar kian menipis.
Sang pengawas arang dan kayu bakar, Murai Nagato, mendapat perintah dari Oda Nobunaga untuk melakukan penghematan. Maka Nagato melakukan tugasnya dengan memberi perintah kepada seluruh penduduk dan para samurai untuk menghemat penggunaan arang dan kayu bakar. Dia berkeliling mengawasi. Akibatnya, banyak yang mengeluh sebab perapian mereka tidak dapat menghangatkan tubuh. Pendek kata, tidak banyak kemajuan yang dicapai oleh Nagato. Dia dipecat dari posisinya dan digantikan oleh Kinoshita Tokichiro yang saat itu masih bertugas sebagai pelayan di dapur. Titah Nobunaga tetap sama, melakukan penghematan arang dan kayu bakar.
Seperti halnya Nagato, Tokichiro juga mengawali tugasnya dengan berkeliling dan mengawasi. Dia mendapati biaya tahunan arang dan kayu bakar di benteng Kiyosu melebihi seribu gantang padi. Setiap tahun banyak sekali pohon yang ditebang dan diubah menjadi abu. Tokichiro sadar bahwa cara Nagato dengan menyuruh tiap orang menghemat penggunaan arang dan kayu bakar hanya menimbulkan kericuhan. Maka dia berpikir dan berpikir. Satu ide kreatif muncul.
Tokichiro mendatangi Nobunaga dan menyampaikan idenya. “Di musim dingin, para samurai muda, para prajurit biasa, dan para pelayan menghabiskan hari-hari mereka di dalam ruangan sambil makan, minum, dan bersenda gurau. Sebelum menyuruh mereka menghemat arang dan kayu bakar, dengan segala kerendahan hati hamba mengusulkan agar tuanku lebih dulu mengambil tindakan untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.”
Nobunaga segera memberikan perintah kepada para pengikut seniornya untuk membahas kegiatan-kegiatan wajib yang harus dilakukan selama musim dingin. Akhirnya, tiap orang kini diberi tugas wajib untuk melakukan perbaikan perlengkapan tempur, kuliah, meditasi zen, inspeksi mengelilingi provinsi, dan yang paling penting adalah latihan militer.
Dengan demikian, seisi benteng tidak mempunyai kesempatan untuk bersantai, sehingga tidak perlu menghambur-hamburkan arang dan kayu bakar. Kalaupun ada sedikit waktu kosong, orang-orang tidak memerlukan api untuk menghangatkan badan, karena mereka bergerak terus dan melatih otot-otot tanpa henti. Sehingga, bahan bakar hanya digunakan untuk memasak. Tokichiro pun tidak dibenci oleh penduduk, sebab yang mereka tahu perintah tersebut datang langsung dari Nobunaga, tidak ada hubungannya dengan penghematan arang dan kayu bakar. Inilah contoh sebuah solusi kreatif. Think out of The box.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar